Saham Bank RI Bangkit Lagi, Krisis Perbankan Sudah Berakhir?

Infografis, Saham Top Gainers Top Losers Sepekan

Seiring dengan bangkitnya kembali saham perbankan di Amerika Serikat (AS), saham perbankan besar di Indonesia terpantau ikut bergairah pada perdagangan sesi I Selasa (21/3/2023).

Dari 13 saham bank dengan KBMI 3 dan 4, sepuluh saham menguat, dua saham cenderung stagnan, dan satu saham melemah.

Berikut pergerakan saham bank KBMI 3-4 pada perdagangan sesi I hari ini.

Hingga pukul 09:43 WIB, saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) memimpin penguatan saham perbankan besar di RI pada pagi hari ini, yakni melonjak 2,17% ke posisi harga Rp 940/unit.

Tak hanya saham BNLI, saham PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) atau Panin Bank juga bersamaan melonjak 2,17% ke Rp 1.415/unit.

Sedangkan untuk saham bank raksasa (big four) pada pagi hari secara mayoritas bergairah. Hanya saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang terpantau masih terkoreksi 0,41% pada pagi hari ini.

Koreksi BBRI terjadi karena pada hari ini merupakan periode cum date dividen tunai (cash dividend) di pasar reguler dan negosiasi.

Sementara untuk saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terpantau menguat.

Saham-saham perbankan di AS mulai kembali pulih setelah melewati periode yang cukup volatil pada pekan lalu.

Hal ini terjadi setelah adanya kesepakatan untuk menyelamatkan Credit Suisse dan bank-bank yang sebelumnya mengalami krisis serta upaya bank sentral utama untuk meningkatkan kepercayaan pada sistem keuangan di negaranya.

Bank sentral AS (The Fed), bank sentral Eropa (ECB), dan bank sentral utama lainnya seperti bank sentral Inggris (BoE), bank sentral Jepang (BoJ), bank sentral Kanada (BoC), dan bank sentral Swiss (SNB) berjanji untuk meningkatkan likuiditas pasar dan mendukung bank lain.

Sementara itu, pada Minggu lalu, UBS sepakat untuk mengakuisisi Credit Suisse senilai US$ 3,2 miliar atau setara Rp 49 triliun (kurs Rp 15.340). Setelah penyelamatan darurat, bank gabungan tersebut akan memiliki aset yang dapat diinvestasikan sebesar US$ 5 triliun.

Di lain sisi, pasar kini mengharapkan bahwa The Fed bakal semakin melunak setelah adanya krisis perbankan di AS. Namun pada pertemuan pekan ini, pasar memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bp).

Berdasarkan data CME Group, pelaku pasar melihat ada probabilitas sebesar 76%, The Fed akan menaikkan suku bunganya lagi sebesar 25 basis poin (bp). Sementara 24% probabilitas sisanya melihat The Fed tidak akan menaikkan suku bunganya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*