Krisis Perbankan Mulai Reda, Rupiah Kembali Bertenaga

Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Rupiah menguat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Selasa (21/3/2023). Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat tipis 0,06 %. Rupiah berada di posisi Rp 15.345/US$ pada pukul 09:02 WIB.

Penguatan rupiah menjadi angin segar setelah ambruk kemarin. Pada perdagangan Senin (20/3/2023), rupiah ditutup di posisi Rp 15.355/US$. Mata uang Garuda melemah 0,10%.

Pelemahan rupiah kemarin berbanding terbalik dengan penguatan pada akhir pekan lalu. Pada Jumat (17/3/2023), rupiah menguat 0,23% dan secara sepekan melonjak 0,68%.

Pergerakan rupiah hari ini akan dibayangi rapat bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed).

The Fed akan menggelar Federal Open Market Committee (FOMC) pada hari ini dan besok (21-22 Maret 2023) waktu AS. Pelaku pasar berekspektasi The Fed dapat makin melunak, setelah krisis perbankan menghantui Negeri Paman Sam pada pekan lalu.

Berdasarkan data CME Group terbaru,pelaku pasar melihat ada probabilitas sebesar 76%, The Fed akan menaikkan suku bunganya lagi sebesar 25 basis poin (bp). Sementara 24% probabilitas sisanya melihat The Fed tidak akan menaikkan suku bunganya.

Pergerakan rupiah juga masih dibayangi krisis perbankan di AS dan Eropa.

Seperti diketahui, AS guncang setelah Silicon Valley Bank (SVB), Silvergate Bank, dan Signature Bank tumbang sementara Eropa digoyang krisis Credit Suisse.

Krisis memang sedikit mereda dengan adanya kesepakatan untuk menyelamatkan Credit Suisse dan upaya bank sentral untuk meningkatkan kepercayaan pada sistem keuangan.

Kekahwatiran di AS juga sudah menurun seperti tercermin dari kembali hijaunya bursa Wall Street.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*