Harga Emas Rehat Dulu, Saham Tambangnya Ikutan Loyo

FILE PHOTO: Mining equipment is seen inside the vast open pit of the Batu Hijau copper and gold mine, run by Newmont Mining Corp, on Indonesia's Sumbawa island, in this September 21, 2012 file photo.  REUTERS/Neil Chatterjee/File Photo               GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD PACKAGE - SEARCH 'BUSINESS WEEK AHEAD 24 OCT'  FOR ALL IMAGES - S1AEUITDZFAAREUTERS/      /File Photo

Saham emiten pertambangan emas berbalik arah ke zona merah pada perdagangan sesi I Selasa (21/3/2023), setelah sehari sebelumnya sempat bergairah dan koreksi pada hari ini karena melandainya harga emas dunia.

Hingga pukul 09:10 WIB, setidaknya enam saham pertambangan emas kompak terkoreksi pagi hari ini, di mana empat saham emas sudah terkoreksi hingga 1% lebih.

Berikut pergerakan saham emiten tambang emas pada perdagangan sesi I hari ini.

Saham PT Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI) memimpin koreksi saham pertambangan emas pada pagi hari ini, yakni ambles 2,86% ke posisi harga Rp 101/saham.

Berikutnya ada saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) yang ambrol 2,83% ke Rp 68/saham.

Sedangkan untuk saham pertambangan emas berkapitalisasi pasar besar seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sama-sama melemah sebesar 0,26%.

Setelah melesat dalam beberapa hari terakhir, harga emas acuan dunia mulai melandai. Pada penutupan perdagangan Senin kemarin, emas ditutup melemah 0,46% di posisi US$ 1.978,71 per troy ons.

Harga emas juga masih melemah pada pagi hari ini. Per pukul 05:59 WIB, harga emas ada di posisi US$ 1.978,49 per troy ons, turun tipis 0,01%.

Pelemahan emas ini terjadi setelah sang logam mulia terbang tinggi pada akhir pekan lalu hingga Senin siang kemarin, sehingga investor cenderung melakukan aksi ambil untung.

Harga emas sempat melesat 1% pada perdagangan Senin siang waktu Indonesia, tepatnya sekitar pukul 14:26 WIB, menembus level S$ 2.007,69 per troy ons.

Ini adalah kali pertama emas menembus level US$ 2.000 sejak 8 Maret 2022 atau beberapa hari setelah perang Rusia-Ukraina meletus akhir Februari 2022.

Analis Saxo bank Ole Hansen menjelaskan emas melandai karena sejumlah faktor. Di antaranya adalah aksi profit taking dan harganya yang sudah naik tajam.

Sebagai catatan, harga emas sudah melesat 3,4% sepekan. Krisis perbankan di Amerika Serikat (AS) dan Eropa membuat emas bergerak sangat liar. Pasalnya, banyak investor yang panik dan berburu emas sebagai aset aman.

“Emas gagal mengakhiri perdagangan di atas SU$ 2.000 per troy ons karena aksi profit taking,” tutur Hansen, dikutip dari Reuters.

Namun, menurut analis OANDA, Edward Moya, emas masih berpotensi naik karena krisis perbankan belum selesai, meski sejumlah langkah mitigasi sudah dilakukan.

“Langkah darurat sudah dilakukan tetapi semuanya belum usai. Aset safe haven kini menjadi kunci perdagangan,” tutur Moya, dikutip dari Reuters.

Perdagangan emas kemungkinan masih adem hari ini karena investor menunggu keputusan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Seperti diketahui, The Fed akan menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Selasa dan Rabu pekan ini waktu AS (21-22/3/2023).

Berdasarkan perangkat FedWatch miliki CME Group pelaku pasar melihat ada probabilitas sebesar 76% The Fed akan menaikkan suku bunga 25 basis poin (bp) pada pertengahan pekan ini.

Jika The Fed menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi maka emas bisa kembali terbang. Namun, jika The Fed lebih agresif dibanding ekspektasi maka harga emas bisa ambruk.

Kebijakan moneter yang ketat akan melambungkan dolar AS dan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS. Kondisi ini tentu bukan yang hal yang bagus bagi pergerakan emas. Dolar AS yang menguat akan membuat emas semakin tidak terjangkau karena mahal.

Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga akan kalah saing dengan surat utang pemerintah AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*