Bukan Menakut-Nakuti, 10 Krisis Ini Buat Dunia Hancur Lebur

The United State flag is silhouetted against the setting sun Sunday, May 28, 2017, in Leavenworth, Kan. (AP Photo/Charlie Riedel)

Kondisi ekonomi dunia kini benar-benar diguncang berbagai macam ketakutan mulai dari inflasi, dan suku bunga yang berujung ancaman pada krisis perbankan bak tengah mengobrak-abrik kondisi global.

Tingginya suku bunga dan melemahnya perekonomian menjadi momok semua negara pada tahun ini. Kondisi tersebut membawa dunia kepada kekhawatiran baru yakni krisis ekonomi.

Seperti diketahui, dunia diguncang krisis perbankan yang terjadi ri Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

AS guncang setelah Silicon Valley Bank (SVB), Silvergate Bank, dan Signature Bank tumbang sementara Eropa digoyang krisis Credit Suisse. Krisis perbankan terjadi di tengah belum pulihnya kondisi global akibat diterjang badai pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina.

Namun sebenarnya ‘momok’ mengerikan ini bukan sekali ini terjadi, setidaknya ada beberapa peristiwa krisis yang mengguncang dunia sejak tahun 1930-an.

Krisis Ekonomi Asia atau dikenal juga dengan Krisis Moneter bahkan menjatuhkan kepemimpinan Presiden Soeharto yang sudah berlangsung hingga 32 tahun.

Dari sederet krisis tersebut, Krisis Ekonomi Asia pada 1997/1998, Subprime Mortgage 2007-2009, dan Pandemi Covid-19 memberi dampak besar kepada Indonesia. Setidaknya hingga kini ada 5 krisis yang dampaknya nyata di Tanah Air.

Krisis Ekonomi 1965-1967

Pasca kemerdekaan pembangunan ekonomi Indonesia mengarah pada perubahan struktur dari ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.

Namun kebijakan-kebijakan yang diterapkan belum berhasil meningkatkan tingkat produksi sebagai akibat terbatasnya kapasitas produksi dan infrastruktur pendukung.

Kondisi ini diperparah dengan konflik politik yang berkepanjangan serta masih terjadinya pemberontakan di berbagai daerah yang menyebabkan ketidakstabilan dalam keamanan dan perekonomian.

Dari krisis ini berujung terjadinya perubahan struktur ekonomi dari ekonomi kolonial menjadi nasional paska kemedekaan, kemudian ada pula konflik politik yang berkepanjangan yang tercermin dari seringnya penggantian kabinet.

Selain itum terjadinya pemberontakan di beberapa daerah seperti Sumatera dan Sulawesi, produksi di sektor pertanian dan industri manufaktur rendah, serta berdampak pada pembangunan proyek-proyek mercusuar.

Dampak negatifnya tentu saja, Peningkatan jumlah uang beredar (M2) yang pesat, tanpa diimbangi oleh kenaikan produksi, mengakibatnya inflasi meningkat tajam menjadi sekitar 650% (hyper inflation) pada tahun 1966.

Di sisi lain, ada pula dampak positif dari krisis pada periode ini yakni Beberapa perusahaan asing telah dinasionalisasi, industry kecil mulai tumbuh walaupun belum seperti yang diharapkan.

Krisis 1997 -1998

Masih lekat di ingatan kita, krisis moneter yang menimpa Indonesia tahun 1997, dimana dapat dikatakan pemerintah saat itu tidak memiliki persiapan dan mitigasi yang memadai menghadapi krisis.

Saat itu analisa terhadap kemungkinan krisis (early warning system- EWS) belum merupakan hal menjadi perhatian pemerintah maupun pelaku ekonomi lainnya, sehingga pada saat terjadinya krisis menimbulkan biaya yang cukup besar pada perekonomian Indonesia.

Krisis tersebut juga membuat Indonesia ke bawah titik nadir dan berdampak kepada seluruh sendi-sendi kehidupan, mulai dari ekonomi, politik, hingga sosial.

Fluktuasi harga minyak bumi yang sulit diprediksi dan kecenderungan menurunnya harga minyak bumi di pasar dunia pada awal 1980, telah mendorong pemerintah untuk mengalihkan ketergantungan perekonomian dari sektor migas sektor non migas.

Terkait dengan hal tersebut pemerintah melakukan deregulasi kelonggaran di bidang industrialisasi serta kemudahan membuka bank baru, pemberian ijin kepada bank asing beroperasi di Jakarta, penghapusan batas kredit, dan mengijinkan investor asing memiliki saham domestik.

Di lain pihak hal tersebut telah mendorong peningkatan utang swasta berjangka pendek maupun jangka panjang. Di sektor perbankan , mekanisme pengawasan tidak efektif dan tidak mampu mengikuti pesatnya pertumbuhan sektor perbankan. sehingga banyak industri bank yang tidak sehat.

Dari krisis yang terjadi pada periode ini stock utang luar negeri swasta sangat besar, dan umumnya berjangka pendek, kemudian muncul pula kebijakan deregulasi sektor perbankan dan dibukanya akses pasar modal bagi investor asing tahun 1980 an telah menyebabkan sektor perbankan tumbuh pesat.

Namun pengawasan terhadap kegiatan perbankan masih sangat lemah, sehingga banyak industry bank yang tidak sehat (LDR melebihi 100%, CAR rendah).

Sejalan dengan semakin tidak jelasnya arah perubahan politik,maka isu tentang pemerintahan berkembang menjadi masalah ekonomi. Maka dari itu, Perkembangan situasi politik yang memanas ikut memperbesar dampak krisis ekonomi.

Pada saat itu, krisis financial di Thailand, Korea, dan beberapa di Asia Tenggara telah menyebabkan terjadinya capital outflow dan terdepresiasinya nilai rupiah.

Hal tersebut ditambah pula dengan terjadinya penarikan dana nasabah secara besa-rbesaran telah memicu terganggunya neraca industri perbankan swasta nasional, bahkan sebagian mengalami kebangkrutan sehingga harus ditutup/meger.

Rupiah juga terdepresiasi cukup tajam, bahkan pernah menyentuh level Rp 16000/US$ pada awal tahun 1998.

Namun sisi positifnya, Pesatnya pertumbuhan industry perbankan di Indonesia dan investasi asing (FDI dan portfolio investment), masuknya arus modal asing telah mendorong meningkatnya kinerja pasar modal, ekspor non migas,dan pertumbuhan ekonomi.

Subprime Crisis ( 2007-2009)

Krisis keuangan pada 2008-2009 juga berdampak besar kepada Indonesia, tetapi dampaknya lebih dirasakan sektor keuangan.

Krisis Subprime Mortgage telah menyebabkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat mengalami kontraksi sebesar 0.34% pada tahun 2008. Penurunan pertumbuhan ekonomi tersebut terus berlanjut ke tahun 2009, yaitu sebesar minus 3.07%. Krisis keuangan ini berimbas pada beberapa negara Emerging Market diantaranya Indonesia

Dampaknya juga luas diantaranya, menurunnya pertumbuhan ekonomi Negara-negara mitra dagang menyebabkan ekspor menurun tajam. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan.

Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya yang pada umumnya mengalami kontraksi pada tahun 2009., pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tumbuh positif (4,6%).

Hal ini dikarenakan kontribusi perekonomian Indonesia masih didominasi oleh konsumsi yang menyumbang lebih dari 50% PDB. Meskipun demikian lambatnya pemulihan ekonomi global dikhawatirkan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pandemi Covid-19

Pada 2020 Krisis Pandemi Covid-19 disebabkan penyebaran virus Covid-19. Pandemi membuat perekonomian luluh lantak karena “mati surinya” aktivitas ekonomi akibat penyebaran virus Covid.

Pandemi ini menyebabkan beberapa pemerintah daerah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berimplikasi terhadap pembatasan aktivitas masyarakat, termasuk aktivitas ekonomi, aktivitas pendidikan, dan aktivitas sosial lainnya.

Dampaknya tak perlu ditanya, kita bisa merasakannya sendiri. Pertumbuhan ekonomi tertekan, terganggunya industri, badai PHK, serta berujung kemiskinan yang meningkat. Sehingga menyebabkan melemahnya konsumsi rumah tangga atau melemahnya daya beli masyarakat secara luas dan mengalami penurunan daya beli yang sangat signifikan.

Perang Rusia-Ukraina (2022-Sekarang)

Saat dunia belum sembuh dari pandemi, krisis ekonomi baru mengancam yang dipicu oleh serangan Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022. Perang membuat harga komoditas melambung, inflasi melonjak, dan pertumbuhan melambat.

Buntut panjang ini membuat negara-negara di dunia termasuk Indonesia memasuki era suku bunga tingi.

Kendati demikian, kalau kita lihat Perekonomian Indonesia cenderung tangguh dan memiliki pertumbuhan yang masih bagus meskipun di tengah ketidakpastian ekonomi global sementara inflasi Indonesia masih 5,51% sehingga termasuk moderat dibanding dengan negara lain.

Namun memang dampak yang paling berasa adalah bursa saham yang terombang terdampak krisis akibat suku bunga tinggi di negara super power Amerika Serikat (AS).

Selain itu, kekhawatiran atas perang yang belum juga usai ini tentunya terus menghantui Indonesia. Apalagi dalam hal energi. Sebagaimana diketahui, Indonesia sebagai net importir minyak dan gas bumi (migas) turut terkena dampak meskipun dampak tersebut tidak secara langsung.

Maka dari itu, pemerintah perlu menyiapkan strategi dalam pemenuhan energi nasional baik dalam jangka waktu pendek sampai dengan jangka panjang.

Indonesia harus berhati-hati pada ancaman krisis energi, situasi geopolitik, dan tahun politik. Kondisi yang terjadi saat ini harus diantisipasi untuk menghindari terjadinya kelangkaan energi di Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*