Bukan Isapan Jempol, RI Bakal Jadi ‘Raja’ Tahun 2027

Presiden Joko Widodo secara resmi memulai tahapan pembangunan industri baterai listrik terintegrasi pada Rabu, 8 Juni 2022, di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. (Dok: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Pemerintah menargetkan bahwa Indonesia bisa menjadi ‘raja’ dalam hal ini produsen baterai lithium terbesar ke-3 di Dunia pada tahun 2027 – 2028. Hal itu diungkapkan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan dalam akun instagram-nya, dikutip Selasa (21/3/2023).

Menko Marves Luhut menyampaikan hal tersebut di depan para pebisnis Indonesia dan Asia. “Sehingga kita akan menjadi produsen baterai lithium terbesar ketiga di dunia pada tahun 2027 atau 2028 nanti.¬†So,¬†don’t look down on¬†Indonesia,” katanya.

Luhut memaparkan, ada investasi senilai US$ 31,9 miliar atau sekitar Rp 489 triliun (kurs Rp 15.340) untuk pengembangan rantai pasok industri baterai di Indonesia hingga 2026. Adapun, Indonesia menarik investasi asing langsung sebesar US$ 45,6 miliar tahun lalu, hal ini menjadi rekor tertinggi baru sejak tahun 2000.

“Belum lagi nilai ekspor industri nikel kami mencapai US$ 33,8 miliar pada tahun 2022, di mana US$ 14,3 miliar dihasilkan dari ekspor, besi dan baja. Keberhasilan ini terwuiud karena keteguhan Presiden @jokowi untuk tetap melanjutkan kebijakan hilirisasi industri dalam mengolah raw material di dalam negeri untuk nilai tambah yang lebih tinggi,” jelasnya.

Luhut melanjutkan, data tersebut juga disampaikan kepada IMF yang mengunjungi kantornya beberapa hari yang lalu sembari berkata bahwa jika dulu semua bahan mentah kita ekspor secara cuma-cuma, sekarang cukup sudah.

“Saat ini, Indonesia sudah bisa mengekspor besi dan baja, bukan bijih nikel lagi. Kami akan melakukan hal yang sama dengan timah, bauksit, tembaga, dan lainnya. Perubahan besar ini harus dilihat oleh negara-negara maju,” sebutnya.

This is their problem. Selalu melihat negara berkembang seperti Indonesia adalah negara yang mereka tahu dua puluh atau lima belas tahun yang lalu,” tegasnya.

Dengan memberlakukan larangan ekspor nikel, kata Luhut, Indonesia memiliki kekuatan untuk menghasilkan energi hijau yang sudah dicita-citakan sejak lama.

“Saya ingin kebanggaan ini juga turut dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Kita tidak sedang melawan siapapun, justru kita bersahabat dengan siapa saja,” ucapnya.

Luhut menambahkan, Indonesia terbuka dan mempersilakan negara-negara lain, untuk berinvestasi serta membangun industri pengolahan pertambangan di dalam negeri, dengan catatan bahwa kami juga punya aturan main atau regulasi yang harus mereka penuhi.

“Menjadi negara maju adalah hak setiap negara, kewajiban kita adalah memperjuangkannya,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*