3 Ramalan Ekonomi China di 2024, Semengerikan Apa Buat RI?

3 Ramalan Ekonomi China di 2024, Semengerikan Apa Buat RI?

5 'Malapetaka' Fix Hantam China, Mau Ambruk?

Ekonomi China diproyeksikan melambat pada 2024 dan akan mengalami soft landing. Perlambatan tersebut berampak bagi Indonesia yang merupakan mitra dagang dalam hal ekspor-impor serta salah satu investor besar di Tanah Air.

Dilansir dari Reuters, Dana Moneter Internasional (IMF) https://gameskas138.shop/ mengatakan perekonomian China diperkirakan tumbuh 5,4% tahun 2023, setelah mengalami pemulihan yang “kuat” pasca Covid. Sedangkan untuk tahun depan, IMF memperkirakan pertumbuhan akan lebih lambat.

IMF mengatakan pelemahan yang terus berlanjut di sektor properti dan lemahnya permintaan eksternal dapat membatasi pertumbuhan produk domestik bruto menjadi 4,6% pada tahun 2024.

Sementara riset yang dilakukan DBS menunjukkan proyeksinya terhadap pertumbuhan PDB rata-rata secara tahunan (year on year/yoy) sebesar 5% pada 2023 dan menurun menjadi 4,5% yoy pada 2024.

Dalam riset DBS dengan judul China 2024 Macroeconomic outlook: A New Model, tercatat bahwa sejak 1978 – 2018, China tumbuh rata-rata sebesar 15% yoy dalam PDB riil.

Pertumbuhan rata-rata tersebut mengalami penurunan khususnya selama 2019-2023F dengan rata-rata 6,6% yoy.

DBS menilai China akan mengalami soft landing di 2024 setelah tiga tahun deleveraging di sektor properti. Tiga risiko lunak yang akan dihadapi China yakni rumah yang belum selesai (unfinished homes), utang pemerintah daerah, dan risiko geopolitik.

Oleh karena itu, diperlukan China New Model dengan fokus pada tiga poin inti yakni pendanaan baru (new funding), pilar (pillar), dan fokus pada reformasi struktural (focus of structural reforms) untuk menentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan China.

1. Pendanaan Baru

Pertumbuhan China empat dekade silam telah banyak dipengaruhi oleh utang. Pada tahun 2022, pembiayaan utang terhadap PDB menyumbang 343,9%.

Maka dari itu, perlunya pengurangan utang (debt deleveraging) selalu menjadi tugas para pembuat kebijakan di China.

2. Pilar Pertumbuhan

Saat ini, pertumbuhan ditopang oleh konsumsi. Konsumsi meningkat dari 49,3% di 2010 menjadi 53,2% di 2022 terhadap PDB. Hal ini berbeda dengan periode sebelumnya di mana investasi menjadi motor penggerak utama ekonomi China.

DBS berpendapat bahwa pilar pertumbuhan harus beralih dari pertumbuhan yang didorong oleh konsumsi menuju pertumbuhan yang didorong oleh permintaan, yang mungkin lebih sesuai dengan China pada tahap pembangunan saat ini.

DBSFoto: Total Consumption Expenditure
Sumber: DBS

3. Fokus pada Reformasi Struktural

Fokus reformasi struktural sudah saatnya transisi dari reformasi sisi penawaran ke reformasi sisi permintaan.

Kunci transisi dari reformasi sisi penawaran (de-kapasitas) ke reformasi sisi permintaan (menimbulkan lebih banyak permintaan) pada dasarnya terletak pada pendapatan rumah tangga.

China telah berhasil melakukan reformasi de-kapasitas di sisi pasokan, seperti pertumbuhan produksi bajamelambat menjadi -0,5% pertumbuhan pada tahun 2022 dari puncaknya sebesar 30,3% pada tahun 2005.

DBSFoto: Steel Production Growth (% yoy)
Sumber: DBS

Melihat kondisi yang ada, DBS menunjukkan bahwa China New Model perlu ada transisi pendanaan untuk pertumbuhan dari yang berasal dari utang menjadi pajak, ekuitas, dan obligasi. Selain itu, pilar pertumbuhan juga perlu transisi dari konsumsi menjadi permintaan. Terakhir adalah fokus pada struktur reformasi dari sisi penawaran menjadi permintaan.

Prospek Makro China: Soft Landing, Soft Rebounding, and Soft Risks

1. Soft Landing

Kelebihan pasokan properti residensial dan potensi bubble menjadi hal yang perlu dilakukan deleveraging bagi pengembang dalam tiga tahun terakhir.

Sebagai catatan, harga tanah di kota Beijing dan Shanghai telah naik lebih dari 400% sejak stimulus CNY 4 triliun atau sekitar Rp 8.680 triliun (dengan asumsi kurs 1CNY = Rp2.170) pada 2010. Beijing sudah menerapkan kebijakan pengetatan hingga para pengembang pun mulai mengurangi investasi berlebihan. Investasi real estate turun menjadi 9,3% yoy ytd pada Oktober 2023.

Penjualan tahunan di kota-kota tingkat 1 turun 25% dibandingkan puncaknya masing-masing pada tahun 2021. Penjualan di tingkat 2 dengan leverage tinggi dan kota-kota tingkat 3-4 bahkan anjlok masing-masing sebesar 35% dan 47%.

Kebijakan stimulus, seperti pemotongan suku bunga hipotek dan rasio uang muka, akan terus membantu menstabilkan pembeli rumah tingkat leverage.

DBSFoto: Residential Land Price
Sumber: DBS

2. Soft Rebounding

DBS memandang pemulihan ekonomi China akan terjadi secara perlahan di 2024. Meningkatnya utang rumah tangga yang disebutkan di China menjadi bagian Model Baru yang menghambat konsumsi yang didorong oleh kredit.

Peningkatan tahunan dalam jangka pendekpinjaman rumah tangga turun 19,4% pada Januari-Oktober 2023 dibandingkan periode yang sama tahun 2018, bersamaan dengan itu dengan penurunan penjualan ritel.

Penjualan ritel diperkirakan tumbuh 5% di 2024. Tambahan CNY 3.000 (Rp6.510.000) tax allowance diperkirakan akan menghasilkan peningkatan kapasitas belanja sebesar 2% hingga 3% bagi sebagian besar masyarakat rumah tangga.

Selain itu, pihak berwenang telah menetapkan 20 pedoman untuk meningkatkan konsumsi.Hal ini termasuk dukungan untuk transisi kendaraan listrik dan pembangunan pusat konsumsi di kawasan wisata daerah.

3. Soft Risks

Risiko besar datang dari  proyek senilai CNY 1,6 triliun (Rp3.472 triliun) rumah yang belum selesai (unfinished homes) yang dapat berdampak pada memburuknya situasi utang pemerintah daerah. Namun risiko tersebut relatif lunak (soft) mengingat ada ruang terjadinya cut rate di 2024.

Untuk diketahui, rumah yang belum selesai dibangun menimbulkan risiko terhadap perekonomian yang lebih luas. Pertama, pengembang kini mengurangi investasi pada proyek-proyek baru untuk menyelesaikan proyek-proyek yang sudah ada. Kedua, kekhawatiran mengenai rumah yang belum selesai berpotensi menimbulkan ketidakstabilan sosial.

Ketiga, permintaan fisik dari pembeli rumah akan tetap lemah. Keempat, kinerja penjualan yang lemah pada gilirannya akan berubah menjadi stress pengembang yang gagal bayar. Kelima, efek crowding out dari likuiditas pemerintah dan bank.

Dengan berbagai kondisi yang diproyeksikan, DBS menilai akan terjadi risiko yang ringan di China pada 2024. Hal ini disebabkan karena suku bunga acuannya akan dipangkas. Hal ini diyakini terjadi akibat deflasi yang terjadi belakangan ini sehingga pemerintah akan cenderung mendorong pertumbuhan ekonominya dengan menurunkan suku bunganya.

Peluang untuk tingkat suku bunga bank sentral China (PBoC) sudah semakin terlihat, karena bank sentral AS (The Fed) kemungkinan akan memasuki siklus penurunan suku bunga pada semester kedua 2024.

DBS juga melihat bahwa ke depan, tekanan pada nilai tukar CNY dan dengan demikian arus modal keluar akan berkurang. PBoC kemungkinan akan memangkas LPR sebesar 10bps dan 20bps masing-masing 2 tahun mendatang, menjadi 3,35% pada 2024 dan 3,15% pada 2025.

Dampak Pelemahan Ekonomi China terhadap Indonesia

Kondisi China saat ini dan tahun depan dapat memberikan tekanan bagi Indonesia apalagi China merupakan negara dengan perekonomian terbesar di Asia dan merupakan mitra dagang terbesar Indonesia.

Sebagai catatan, real estat dan sektor terkait menyumbang lebih dari seperempat perekonomian Tiongkok. Kondisi China ini berpotensi mempengaruhi ekonomi Indonesia

Ekonom dan mantan Menteri Keuangan di Era Jokowi M. Chatib Basri menegaskan bahwa pasar barang negara yang sangat berpengaruh pada perdagangan Indonesia dan negara ASEAN adalah China. Pelemahan permintaan impor China yang melambat akan membuat permintaan ekspor dari Indonesia juga melambat.

“1% perlambatan ekonomi di China, itu memiliki dampak perkiraannya sebesar 0,3%,” kata dia dalam acara Bank BTPN Economic Outlook 2024, dikutip Selasa (28/11/2023).

Selain itu, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengingatkan bahwa efek perlambatan di China berpotensi menekan kinerja perdagangan Indonesia.

Taufid mengungkapkan default yang dialami sektor properti memicu pertumbuhan ekonomi China berada di bawah 5% atau diperkirakan sekitar 4,9% pada tahun ini. Efek penurunan ini, akan membuat warga China mengerem impornya, termasuk impor dari Indonesia.

“China ini berdampak besar terhadap Indonesia, pertumbuhan ekonomi China yang turun bisa mempengaruhi ekonomi Indonesia,” tegasnya.

Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan (Kemendag), total ekspor non-migas sejak Januari hingga September 2023 adalah US$180,47 miliar. Sementara total ekspor non-migas dari Indonesia ke China sendiri sebesar US$45,38 miliar pada periode yang sama. Angka ini merupakan yang paling tinggi jika dibandingkan dengan ekspor ke negara lainnya.

Sementara ekspor migas dari Indonesia ke China pada periode yang sama sebesar US$1,82 miliar. Jika ditotal, ekspor migas dan non-migas dari Indonesia ke China sebesar US$47,2 miliar pada Januari-September 2023. Angka ini lebih tinggi 0,76% dibandingkan periode yang sama tahun 2022.

Jika China mengurangi impornya dan fokus pada permintaan dalam negeri, maka ekspor Indonesia ke China akan terus berkurang dan dapat mempengaruhi neraca dagang Indonesia yang saat ini sudah 42 bulan beruntun mengalami surplus.

Untuk diketahui, total ekspor migas dan non-migas Indonesia periode Januari-September 2023 sebesar US$192,26 miliar. Jika China benar-benar menutup 100% impor dari Indonesia, maka neraca dagang Indonesia akan mengalami defisit dan mematahkan tren surplus neraca dagang. Efek dominonya dapat berdampak pada defisit transaksi berjalan hingga pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Selain dari jalur perdagangan, perlambatan ekonomi China juga dikhawatirkan akan berdampak kepada jumlah investasi yang masuk ke Indonesia. Padahal, dalam tiga tahun terakhir, China menjadi salah satu investor terbesar di Tanah Air.

Pada 2013, total investasi China hanya menembus US$ 297 juta (Rp 4,6 triliun) yang menempatkan mereka pada posisi 12 investor terbesar di Indonesia. Pada 2015, China naik ke peringkat ke-9 dengan investasi US$ 628 juta hingga mencapai posisi ketiga pada tahun 2017.

investasi asingFoto: BKPM
investasi asing

 

Investasi China di Indonesia hampir selalu berada di bawah US$ 1 miliar sebelum tahun 2019. Sejak 2019, investor China gemar menanamkan modalnya di Indonesia sehingga investasi hampir selalu di atas US$ 1 miliar. Investasi mereka sempat melambat dan berada di bawah US$ 1 miliar pada kuartal II-IV 2022 atau setelah badai pandemi Covid-19 melanda dunia.

Pada 2021, investasi China menembus US$ 3,2 miliar. Jumlah tersebut hanya kalah dari Singapura dan Hong Kong. Investasi terus meningkat menjadi US$ 8,2 miliar pada 2022.
Pada Januari-September 2023, investasi China di Indonesia sudah menembus US$ 5,6 miliar atau sekitar Rp 86,74 triliun.

Salah satu fokus investasi China adalah pengembangan smelter di Maluku Utara dan Sulawesi Tengah.

Di sektor infrastruktur, China dan Indonesia juga bekerja sama membangun mega proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat, dan Tol Medan-Kualanamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*